Monthly Archives: August 2019

Akhirnya ketemu lagi

<sambil baca, silahkan dengar lagu ini https://www.youtube.com/watch?v=_6nelE4nieo>

Setelah sekian lama akhirnya punya kesempatan untuk nelusuri lagi akun lama yang terbuang, tebawa lupa diseret keseharian, padahal ini modal bagus, sebuah blog berusia sepuluh tahun yang nganggur begitu aja.

Dunia sudah banyak berubah sejak terakhir kali saya menulis disni, teknologi sudah maju begitu pesat, yang terpenting adalah single sign in-nya google, yah mungkin itu biasa saja, tapi dia memberikan kemudahan yang nyata untuk orang pelupa seperti saya agar bisa tetap masuk ke akun ini-itu dengan satu akun saja, satu akun yang tersemat didalam keychain di laptop, dengan begini saya bisa terus terhubung dengan akun ini, dan akun itu, menulis lagi ini, bercerita lagi itu.

Setelah sekian jauhnya berkelana mengembara diantara belantara dunia maya, saya dan kawan seumuran mulai merasakan keresahan, keinginan untuk kembali mengarungi dunia maya yang kami kenal dulu dengan cara-cara lama, menulis panjang-panjang di blog, bercerita-berbusa berbagi kelakar di podcast.  Ceritanya kami ini jelmaan katak yang terdampar di tengah danau yang mengering, tak ada lagi air, rindu mengharap hujan, bosan dengan hiruk pikuk, menepi dalam keramaian, alih-alih kembali pada alam, kami ingin tetap berteknologi, namun lebih tradisional-konvensional, kuno kata milenial.

Sekarang usia sudah hampir kepala empat, menyesali dulu ketika duapuluh-an tidak bergegas menumpuk cerita untuk kembali dibaca dimasa tua. Baru nemu blog yang tercecer sekian tahun saja sudah girang rasanya, seperti menemukan kawan bercerita yang telah lama hilang entah kemana. Hmm, padahal apa susahnya dulu menulis hari-hari seperti remaja dengan buku diarinya, berkeluh-kesah menumpahkan gundah gulana, sekalipun tiap masa punya beda sendiri-sendiri, punya rasa yang tidak pernah sama, tapi setidaknya itu jadi rangkaian pasangan rasi bintang yang akan bercerita pada dunia tentang siapa gerangan diri ini, menunjukkan arah agar mereka tidak tersesat dalam persepsi yang tampak.

Anak sudah berapa? saya tiga, mau empat, yang sulung sudah pemuda, kebetulan laki-laki, dulu dia baru satu tahun ketika saya lepas akun ini, sekarang mau masuk sekolah menengah pertama, saya anggap itu pemuda, karena di zaman ini umur menyusut seperti jeruk nipis di kotak bumbu ibu-ibu yang tidak pernah masak, mengecil jumlahnya untuk dikata dewasa, dulu lepas SMA saya masih mainan yang gitu-gitu aja, sekarang sudah aneh-aneh, sedikit-sedikit internet, selalu mencari dikejauhan, hilang hormat dan rasa percaya dengan yang dekat, seperti bankir yang sudah puluhan tahun berkarir, biasanya baju makin rapi, uban makin ketara. Yang kedua perempuan, sukanya berenang, masih bocah tapi nyali-nya tinggi menghadapi kedalaman. Adiknya seharusnya usia dua tahun sekarang, tapi dia meninggal didalam kandungan. Sekarang menunggu yang ke-empat.

Gimana karier-mu? masih yang itu-itu saja? atau sudah lain lagi? saya sudah sukses sekarang, sukses menjadi orang yang bodo amat, sukses menikmati hidup sekalipun yang dijalani hanya setapak tanah merah yang rumpil. Pun, kiri-kanan sarat dengan pemandangan yang tidak kalah bagusnya, pohon paku menjuntai di sisi-sisinya, ada jurang landai mengarah ke selatan, ke tempat para dewa-dewa mengalirkan periuknya. Saking bagusnya dia cepat mengobati kaki yang pecah-pecah sobek berdarah diterjang kerikil dan batu-batuan tajam, belum lagi aneka duri dan kulit kerang, komplit dan ya, bodo amat.

Waktu luang? wah sudah hampir tidak ada, kalaupun ada sudah bukan milik saya lagi, tapi sudah habis dijarah rakyat berlima di negara dengan bendera keluarga ini. Setiap hari mereka demonstrasi besar-besaran, meneriakkan tuntutan yang tidak ada hentinya, satu beres, datang lainnya. Sebagian lagi sudah habis digerogoti oleh kewajiban, tuntutan, permintaan si A dan si B, karena apa mau dikata, saya harus berdagang dengan mereka, untuk sesuatu yang didapat, mesti ada yang dilepaskan, saya minta makan, mereka minta waktu, yah asal jangan nyawa, kalo itu saya hanya punya satu, dan masih butuh, semoga punya kamu juga masih utuh.

Hari ini masih dalam semangat 17 agustus, selagi hangat, melancong dulu ke gerbang komplek, banyak atraksi orang berjalan kaki membawa obor, menyembur api, sebagian lagi bertingkah gila dengan sepeda motornya yang ia buat meraung-raung sangat keras memekak telinga, mencoba mencari hiburan diujung senja sebelum pecah perang dunia, yuk …